Karakter Industri Pariwisata

July 30, 2013
Menurut James J. Spillane (1987:87-88) sifat-sifat khusus mengenai industri pariwisata yaitu:
1. Produk wisata memiliki ciri tidak dapat dipindahkan. Wisatawan tidak dapat membawa produk wisata ketempat lain, harus datang untuk menikmati, mengunjungi, produksi wisata yang ditawarkan.
2. Dalam pariwisata produksi dan konsumsi terjadi pada saat yang sama.
3. Pariwisata memilik berbagai ragam bentuk, oleh karena itu bidang pariwisata tidak ada standar ukuran yang obj ektif.
4. Langganan tidak dapat menikmati, mengetahui, atau menguji produk wisata itu sebelumnya, yang dapat dilihat hanya berupa brosur dan gambar-gambar.
5. Produk wisata memiliki resiko yang besar, industri pariwisata memerlukan penanaman modal yang besar, sangat peka terhadap perubahan situasi ekonomi, politik, sikap masyarakat atau kesenangan wisatawan. Perubahan tersebut dapat menggoyahkan sendi-sendi penanaman modal kepariwisataan karena mengakibatkan kemunduran usaha yang deras, sedangkan sifat produk itu relatif lambat untuk menyesuaikan keadaan pasar.

Menurut Yoeti (2008: 67-69) pariwisata memiliki enam ciri-ciri antara lain:

1. Service Industry
Perusahaan yang membentuk industri pariwisata adalah perusahaan jasa (service industry) yang masing-masing bekerja sama menghasilkan produk (good and services) yang dibutuhkan wisatawan selama dalam perjalanan wisata pada daerah tujuan wisata.

Pengertian-pengertian yang terkandung dalam services industry antara lain:
a. Penyediaan jasa-jasa pariwisata (tourist supply) berlaku pula hukum ekonomi dan tidak terlepas dan permasalahan permintaan (demand) dan penawaran (supply).
b. Penawaran (supply) dalam industri pariwisata tidak tersedia bebas akan tetapi diperlukan pengolahan dan pengorbanan (biaya) untuk memperolehnya.

2. Labor Intensive
Yang dimaksud dengan labor intensive pariwisata sebagai suatu industri adalah banyak menyerap tenaga kerja. Dalam suatu penelitian mengatakan beberapa persen dan belanja wisatawan pada suatu daerah wisata digunakan untuk membayar upah dan gaji (wages and salaries).

3. Capital Intensive
Industri pariwisata sebagai capital intensive adalah untuk membangun sarana dan prasarana industri pariwisata diperlukan modal yang besar untuk investasi, akan tetapi dilain pihak pengembalian modal yang diinvestasikan itu relatif lama dibandingkan dengan industri manufaktur lainnya.

4. Sensitive
Industri pariwisata sangat peka terhadap keamanan (security) dan kenyamanan (comfortably). Dalam melakukan perjalanan wisata tidak seorang pun wisatawan yang mau mengambil resiko dalam perjalanan yang dilakukan Sebagai contoh ketika terjadi ledakan born di Bali kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali turun merosot sehingga hotel, restoran dan toko cenderamata menutup usahanya.

5. Seasonal
Industri pariwisata sangat dipengaruhi oleh musim, bila pada masa musim liburan (peak season) semua kapasitas akan terjual habis dan sebaliknya pada masa musim libur selesai (off-season) semua kapasitas terbengkalai (idle) karena sepi pengunjung.

6. Quick Yielding Industry
Dengan mengembangkan pariwisata sebagai suatu industri, devisa (foreign exchange) akan lebih cepat jika dibandingkan dengan kegiatan ekspor yang dilakukan secara konvensional. Devisa yang diperoleh langsung pada saat wisatawan melakukan perjalanan wisata, karena wisatawan harus membayar semua kebutuhannya mulai dari akomodasi hotel, makanan dan minuman, transportasi lokal, oleh-oleh atau cenderamata, hiburan city sightseeing dan tours. Semuanya dibayar dengan valuta asing yang tentunya ditukarkan di money changer atau bank.


--- --- ---
Sumber:

Skripsi Arifta Budi, Analisis Permintaan Obyek Wisata Masjid Agung Semarang  (Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2013)

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon