Pengertian Efisiensi Pada Lembaga Pendidikan

April 07, 2014
Efisiensi
Berdasarkan perspektif ilmu ekonomi, permasalahan yang dihadapi dalam ekonomi ialah scarcity (kelangkaan). Untuk menghadapi kelangkaan tersebut, prinsip efisiensi menjadi syarat penting dalam menghadapi masalah kelangkaan sumberdaya alam. Menurut Hyman (2005), sebagian besar orang mengartikan efisiensi dengan memproduksi hasil yang diinginkan dengan meminimumkan upaya atau biaya. Artinya ialah meminimalisasi pemborosan dengan menghindari hasil produksi yang tidak berguna.

Efisiensi merupakan rasio antara input dan output, dan perbandingan antara masukan dan pengeluaran. Apa saja yang dimaksudkan dengan masukan serta bagaimana angka perbandingan tersebut diperoleh, akan tergantung dari tujuan penggunaan tolok ukur tersebut. Menurut Nopirin (1997), efisiensi dapat berarti tidak adanya pemborosan. Efisiensi adalah kemampuan untuk mencapai hasil yang diharapkan dengan mengorbankan tenaga atau biaya yang minimum atau dengan kata lain, suatu kegiatan telah dikerjakan secara efisien jika pelaksanaan kegiatan telah mencapai sasaran (output) dengan pengorbanan (input) yang terendah.



Efisiensi dapat dikatakan sebagai suatu tindakan yang dapat meminimalkan pemborosan atau kerugian sumberdaya dalam melaksanakan suatu kegiatan atau dalam menghasilkan sesuatu. Mubyarto (1986) menyatakan bahwa efisiensi adalah suatu keadaan dimana sumberdaya telah dimanfaatkan secara optimal. Untuk memperoleh sejumlah produk diperlukan bantuan atau kerjasama antara beberapa faktor produksi. Selain itu efisiensi merupakan perbandingan antara masukan dengan pengeluaran. Apa saja yang termasuk kedalam masukan serta bagaimana angka perbandingan tersebut diperoleh, tergantung dari tujuan penggunaan tolok ukur tersebut. Usaha peningkatan efisiensi umumnya dihubungkan dengan biaya yang lebih kecil untuk memperoleh suatu hasil tertentu, atau dengan biaya tertentu diperoleh hasil yang lebih banyak. Hal ini berarti menekan pemborosan hingga sekecil mungkin. Segala hal yang memungkinkan untk mengurangi biaya tersebut dilakukan demi efisiensi. Timmer 1998 dalam Komarsyiah (2006) mendefinisikan efisiensi teknik sebagai rasio input yang benar-benar digunakan dengan ouput yang tersedia. Efisiensi alokatif menunjukan hubungan biaya dan ouput. Efisiensi alokatif tercapai jika perusahaan tersebut mampu memaksimumkan keuntungan yaitu menyamakan produk marjinal setiap faktor produksi dengan harganya. Efisiensi ekonomi produk dari efisiensi teknik dan efisiensi harga. Jadi efisiensi ekonomis dapat dicapai jika kedua efisiensi tercapai.

Nicholson (2002) menyatakan bahwa efisiensi dibagi menjadi dua pengertian. Pertama, efisiensi teknis (technical efficiency) yaitu pilihan proses produksi yang kemudian menghasilkan output tertentu dengan meminimalisasi sumberdaya. Kondisi efisiensi teknis ini digambarkan oleh titik-titik di sepanjang kurva isoquan. Kedua, efisiensi ekonomi (cost efficiency) yaitu bahwa pilihan apapun teknik yang digunakan dalam kegiatan produksi harus meminimumkan biaya. Pada efisiensi ekonomis, kegiatan perusahaan akan dibatasi oleh garis anggaran yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (isocost). Efisiensi produksi yang dipilih adalah efisiensi yang di dalamnya terkadung efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi.

Efisiensi pada lembaga pendidikan dasar dan menengah lebih relevan menggunakan efisiensi teknis. Efisiensi teknis ditujukan untuk mengukur tingkat pencapaian kualitas tertentu sebagai produk dari kombinasi input yang ada. Digunakannya efisiensi teknis karena dalam pendidikan dasar dan menengah dianggap sebagai public goods bukan komoditas pasar yang kompetitif seperti perguruan tinggi (Ace Suryadi, 1999 dikutip dari Ikhwan, 2004).

Menurut Jafarov dan Gunnarson (2008), efisiensi teknis adalah kombinasi antara kapasitas dan kemampuan unit ekonomi untuk memproduksi sampai tingkat output maksimum dari sejumlah input yang digunakan. Seiring dengan perkembangannya penggunaan ukuran efisiensi saat ini tidak hanya digunakan bagi perusahaan saja, tetapi juga dapat digunakan dalam mengukur kinerja pemerintah atau sektor publik.

Pengukuran efisiensi teknik (technical efficiency) cenderung lebih terbatas pada hubungan teknis operasional dalam proses konversi input mejadi output dan akibatnya usaha untuk meningkatkan efisiensi teknis hanya dilakukan dengan kebijakan mikro yang memiliki sifat internal, yaitu dengan pengendalian dan alokasi sumber daya secara optimal. Sedangkan dalam efisiensi ekonomi harga tidak dianggap given, karena harga dapat dipengaruhi oleh kebijakan makro (Nicholson, 2002).

Efisiensi Lembaga Pendidikan
Menurut Depdiknas (2003), pada umumnya tantangan sekolah berasal dari output sekolah yaitu kualitas, produktivitas, efektifitas, dan efisiensi. Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Kualitas dalam pendidikan yang dimaksud ialah kualitas output yang tercermin dari rata-rata nilai UN. Mutu output tersebut dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input dan proses persekolahan. Produktivitas adalah perbandingan antara output sekolah dibandingkan dengan input sekolah. Jika tahun ini sebuah sekolah lebih banyak meluluskan siswanya daripada tahun lalu dengan input yang sama, maka dapat dikatakan bahwa tahun ini sekolah tersebut lebih produktif daripada tahun sebelumnya. Efektivitas ialah ukuran yang menyatakan sejauh mana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai. Apabila digambarkan, efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi degan hasil yang diharapkan. Jika jumlah nilai UN maksimal ialah 60, namun apabila nilai yang diperoleh siswa adalah 47 maka efektivitasnya ialah 47: 60 = 78,33 persen.

Ace Suryadi (1999) dikutip dari Ikhwan (2004), efisiensi lembaga pendidikan ditujukan pada tingkat pencapaian hasil yang setinggi-tingginya dengan menggunakan masukan yang serendah-rendahnya. Riset mengenai fungsi produksi dalam bidang pendidikan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama meliputi penilaian penyesuaian input output produksi untuk menguji efisiensi relatif institusi di bidang pendidikan. Sedangkan kelompok kedua lebih memusatkan pada perbandingan input output untuk mengevaluasi keefektifan.

Kemendiknas membagi efisiensi pendidikan menjadi dua bagian yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal berkaitan dengan kualitas sekaligus kuantitas masukan dan keluaran dalam bidang pendidikan. Sedangkan efisiensi eksternal diukur melalui seberapa besar keseimbangan antara social cost dan social benefit sekaligus mengukur seberapa jauh pendidikan dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Efisiensi pendidikan diukur dari tingkat output yang dicapai berupa pengetahuan yang diperoleh dari setiap mata pelajaran dengan penggunaan sumberdaya atau input. Sumberdaya tersebut dapat dibedakan menjadi sumberdaya yang dapat dikontrol oleh sekolah atau pengambil kebijakan meliputi jumlah dan alokasi anggaran, kuantitas dan kualitas guru, ruang kelas dan sarana prasarana sekolah lainnya, serta proses pembelajaran. Sedangkan sumberdaya yang berada di luar kontrol sekolah adalah kondisi sosial ekonomi keluarga siswa dan kemampuan siswa itu sendiri (Irfan, 2010).


Sumber:
Khoirul H., Analisis Produktivitas Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Di Kabupaten Semarang, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2013

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon