Aspek Ekonomi Pariwisata

Bagi suatu negara, pariwisata merupakan invisible export karena negara tidak perlu menjual komoditi tersebut ke luar negeri untuk mendatangkan devisa, dengan sendirinya devisa akan masuk ke negara yang mempunyai objek wisata.

Oleh karena itu setiap negara selalu berusaha untuk mendorong industri pariwisatanya guna mendatangkan devisa. Selain itu pengembangan industri pariwisata juga bisa mendatangkan efek multiplier yang besar bagi perekonomian seperti berkembangnya industri jasa transportasi, perhotelan, perdagangan, dan berkembangnya sektor-sektor lainnya.


Shmoll dalam Yoeti (2008) dalam Prabowo (2009) mengatakan bahwa wisatawan itu bertindak dengan kehendak hatinya dan bebas memilih daerah wisata yang akan dikunjunginya, obyek dan atraksi wisata yang akan dilihatnya atau fasilitas serta produk apa yang dibutuhkan atau diinginkannya.



Permintaan dalam industri pariwisata terdiri dari beberapa fasilitas atau produk yang berbeda, namun sangat erat kaitannya dengan kebutuhan wisatawan selama dalam perjalanan wisata yang dilakukannya (composite demand). Lebih lanjut menurut Shmoll, faktor-faktor yang menentukan permintaan terhadap daerah kunjungan wisata antara lain :
  1. Harga (price)
  2. Daya tarik wisata (tourist attractions), fasilitas yang tersedia (tourist facilities), bentuk-bentuk pelayanan lainnya (services) seperti transportasi lokal, telekomunikasi, dan hiburan.
  3. Kemudahan-kemudahan untuk berkunjung (accessibilities) seperti sarana jalan, jembatan, tenaga listrik, atau persediaan air bersih.
  4. Pre travel services and informations
  5. Images of tourist destination
A. Industri pariwisata
Ada beberapa pengertian tentang industri pariwisata, antara lainnya sebagai kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) yang dibutuhkan para wisatawan pada khususnya dan traveler pada umumnya, selama dalam perjalanannya. (Yoeti, 1985, p.9). Pengertian tentang industri pariwisata yang lainnya adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi dan pemasaran produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari orang yang sedang bepergian. (Kusudianto, 1996, p.11)

B. Prasarana dan sarana wisata
Agar suatu obyek wisata dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata yang menarik, maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari sarana dan prasarana obyek wisata tersebut. Karena sarana dan prasarana juga sangat diperlukan untuk mendukung dari pengembangan obyek wisata. Menurut Yoeti dalam bukunya Pengantar Ilmu Pariwisata (1985, p.181), mengatakan :
“Prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beraneka ragam”.
Prasarana tersebut antara lain :
  1. Perhubungan : jalan raya, rel kereta api, pelabuhan udara dan laut.
  2. Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih.
  3. Sistem telekomunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi,
  4. Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit.
  5. Pelayanan keamanan baik itu pos satpam penjaga obyek wisata maupun pos-pos polisi untuk menjaga keamanan di sekitar obyek wisata.
  6. Pelayanan wistawan baik itu berupa pusat informasi ataupun kantor pemandu wisata.
  7. Pom bensin
  8. Dan lain-lain. (Yoeti, 1984, p.183)


Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya tergantung pada kedatangan wisatawan (Yoeti, 1984, p.184).
Sarana kepariwisataan tersebut adalah :
  1. Perusahaan akomodasi : hotel, losmen, bungalow.
  2. Perusahaan transportasi : pengangkutan udara, laut atau kereta api dan bus-bus yang melayani khusus pariwisata saja.
  3. Rumah makan, restaurant, depot atau warung-warung yang berada di sekitar obyek wisata dan memang mencari mata pencaharian berdasarkan pengunjung dari obyek wisata tersebut.
  4. Toko-toko penjual cinderamata khas dari obyek wisata tersebut yang notabene mendapat penghasilan hanya dari penjualan barangbarang cinderamata khas obyek tersebut.
  5. Dan lain-lain. (Yoeti, 1985, p.185-186) Dalam pengembangan sebuah obyek wisata sarana dan prasarana tersebut harus dilaksanakan sebaik mungkin karena apabila suatu obyek wisata dapat membuat wisatawan untuk berkunjung dan betah untuk melakukan wisata disana maka akan menyedot banyak pengunjung yang kelak akan berguna juga untuk peningkatan ekonomi baik untuk komunitas di sekitar obyek wisata tersebut maupun pemerintah daerah.



Sumber:
Fanita, (2012). Analisis Permintaan Obyek Wisata Pemandian Air Panas Kalianget, Kabupaten Wonosobo Dengan Pendekatan Travel Cost. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012.+

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon