Teori Keunggulan Komparatif

Comparative Advantage (keunggulan komparatif) pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo (1917).


Ricardo mengemukakan bahwa apabila ada dua negara yang saling berdagang dan masing-masing negara mengkonsentrasikan diri untuk mengeskpor barang yang bagi negara tersebut memiliki keunggulan komparatif maka kedua negara tersebur akan beruntung.

Keunggulan komparatif suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah adalah komoditi tersebut lebih unggul secara relatif dengan komoditi lain didaerahnya. Dalam perdagangan bebas antar daerah, mekanisme pasar mendorong masingmasing daerah bergerak ke arah sektor yang memiliki keunggulan komparatif.



Namun mekanisme pasar seringkali bergerak lambat dalam mengubah struktur ekonomi suatu daerah. Untuk itu informasi tentang keunggulan komparatif suatu daerah apabila sudah diketahui lebih dulu, pembangunan dapat dilakukan tanpa menunggu mekanisme pasar (Tarigan, 2006 : 79).


Dalam teori modern, dikenal dengan teori Heckser dan Ohlin (H-O), yang sering disebut dengan teori proporsi faktor atau teori ketersediaan faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa perdagangan internasional terjadi karena opportunity cost yang berbeda antar negara. Jadi menurut teori H-O
"Suatu negara akan berspesialisasi dalam produksi dan ekspor barang-barang yang jumlah input utamanya yang relatif banyak di negara tersebut dan mengimpor yang input utamanya tidak dimiliki oleh daerah tersebut"
(Tambunan, 2005 : 94 ).




Sumber:
Soleh A, (2012). Kontribusi Dan Daya Saing Ekspor Sektor Unggulan Dalam Perekonomian Jawa Tengah. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon