Variabel dalam Keterlibatan Kerja

September 01, 2019
Variabel dalam Keterlibatan Kerja

a. Sebagai variabel perbedaan individu
Sekaran (1989), Sekaran & Mowday (1981) (Elloy, et., al., 1995 : 2) meyakini keterlibatan kerja sebagai suatu konsep yang terjadi atau berlangsung ketika kepemilikan atas suatu kebutuhan, nilai atau sejumlah karakteristik personal menjaadi ke arah yang lebih atau justru kurang terlibat dalam pekerjaan yang mereka lakukan.

Sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Rabinowitz & Hall (1977) menyimpulkan sejumlah karakteristik individu yang terkait dengan keterlibatan kerja, seperti : umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, jabatan, kekuasaan, tingkat kontrol yang dimiliki, nilai-nilai yang dianut.



Salah satu aspek kepribadian yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi adalah locus of control. Gibson (1988:67) mengemukakan bahwa individu yang memiliki internal locus of control akan cenderung memiliki inisiatif yang tinggi dan kerja keras, berusaha memecahkan maslah dan melakukan usaha yang terarah pada tugas.

b. Sebagai variabel situasional
Keterikatan kerja dilihat sebagai suatu respon terhadap karakteristik situasi kerja yang spesifik ketika individu menjadi terlibat dengan pekerjaan mereka. Faktor-faktor situasional tersebut seperti sikap pimpinan, proses-proses pembuatan keputusan, hubungan interpersonal, tingkatan pekerjaan, dapat mempengaruhi sejauhmana individu terlibat dalam pekerjaannya (Elloy, et.,al.,1995 : 2).

Vroom (Rabinowitz & Hall, 1977:268) menyatakan bahwa faktor-faktor pekerjaan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya keterlibatan kerja karyawan. Faktor-faktor pekerjaan tersebut adalah partisipasi karyawan dalam proses pengambilan keputusan terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan karakteristik pekerjaan mereka sendiri.

Sedangkan Blauner (1964) menyatakan bahwa keterlibatan kerja dipengaruhi oleh kontrol individu, hubungan dengan orang disekitarnya, dan tujuan yang ingin dicapai. Individu yang mengontrol proses kerjanya (irama kerja), kuantitas produk yang dihasilkan, memilih peralatan yang dipakai, akan menjadi terlibat dalam pekerjaannya.

c. Sebagai variabel interaksi antara situasi-hasil kerja
Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa individu dalam situasi kerja pasti akan membawa nilai-nilai tertentu yang akan berinteraksi dengan situasi kerja yang ada (Agustina 1997 : 20). Wanous (Rabinowitz & Hall, 1977 : 269) mengungkapkan tentang hubungan antara proses sosialisasi individu dengan karakteristik pekerjaan.

Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penentu kebutuhan individu untuk bekerja. Sosialisasi menyebabkan individu membentuk suatu orientasi terhadap pekerjaannya dan menguatkan keyakinan bahwa ia akan mendapatkan kepuasan intrinsik dari pekerjaannya itu.

Individu yang memiliki keterlibatan tinggi akan mencurahkan waktu dan energinya untuk pekerjaannya, berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang berpengaruh bagi hubungan mereka dan organisasi.

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon