Analisis Rasio Metode RADAR Kinerja Keuangan Perusahaan (Lengkap)

March 30, 2020
Analisa rasio keuangan sampai saat ini masih sering digunakan oleh para analisis perusahaan sebagai alat yang paling cepat untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan. Namun, penyempurnaan analisa rasio keuangan klasik (Dupont System) dengan analisa rasio RADAR perlu dilakukan agar dapat memberikan penilaian secara lebih menyeluruh dan sesuai dengan ukuran keberhasilan perusahaan, baik untuk kondisi jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu metode analisa rasio RADAR merupakan penyempurnaan dari analisa rasio keuangan (Hermanto, 1993: 39).

Analisis Rasio Metode RADAR Kinerja Keuangan Perusahaan
Hal ini berarti, pengukuran kinerja harus memperhatikan bagaimana suatu perusahaan dalam melaksankan program jangka pendeknya dengan tidak mengorbankan kepentingan jangka panjang. Program jangka pendek dan jangka panjang harus saling mendukung, dimana program jangka pendek harus dapat menjadi dasar bagi pencapaian program jangka panjang perusahaan yang berkelanjutan. Hermanto mengatakan bahwa sebutan metode RADAR berasal dari bentuk gambaran visual ikhtisar perhitungan rasio kinerja perusahaan yang merupakan penyempurnaan analisa rasio keuangan. Metode ini dikembangkan oleh APO (Asian Productivity Organization) yang berpusat di Tokyo, Jepang. Analisis RADAR ini memberikan wawasan jangka menengah dan jangka panjang yang mungkin memberikan pembenaran terhadap rendahnya ROI. Analisis RADAR ini juga dapat dipergunakan untuk membaca kemungkinan Window Dressing dari laporan keuangan, meskipun hal ini memerlukan pengalaman, kecermatan dan ketrampilan. Analisa rasio RADAR mengelompokkan rasio-rasio kedalam kelompok besar yaitu: Profitabilitas, Produktivitas, Utilisasi Usaha, Stabilitas dan Potensi Pertumbuhan.

Ada tiga kelebihan analisa rasio RADAR yaitu (Setyawan, 2006: 48):

  1. Analisis metode RADAR menyajikan rasio-rasio keuangan yang lebih lengkap dibandingkan dibandingkan analisis rasio-rasio konvensional yang telah ada sebelumnya dan dalam metode RADAR ini juga memasukkan penilaian kondisi perusahaan untuk jangka panjang (kelompok Rasio Produktivitas dan Potensi Pertumbuhan).
  2. Bentuk interprestasi pola rasio RADAR yang lebih integaratif, sehingga memudahkan proses analisis mengenai kondisi suatu perusahaan.
  3. Analisis Metode RADAR dapat digunakan untuk membaca kemungkinan adanya window dressing dari laporan keuangan.

A. Macam-macam Rasio Keuangan Metode RADAR
Metode RADAR dapat dihitung atau diukur dengan menggunakan analisis rasio sebagai berikut (Hermanto, 1993: 39):
1) Rasio Profitabilitas
Menurut Hermanto (1993: 40) secara umum tujuan dari analisis ini dapat diikuti pada pembahasan secara klasik, meski demikian ada beberapa rasio tambahan yang merupakan ciri khas metode RADAR sebagaimana terlihat pada rincian sebagai berikut:

a) Return On Investment; Tingkat Pengembalian Modal Investasi
Return On Investment dalam analisis laporan keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisis keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan seluruh dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasinya dalam menghasilkan laba. Semakin besar ROI maka semakin baik daya pengembalian perusahaan

ROI = (Laba Bersih / Total Aktiva)

b) Gross Profit Margin; Rasi margin Kotor
Gross Profit Margin merupakan rasio atau perimbangan antara laba kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Bila rasio ini rendah, menunjukkan daya jual perusahaan kurang bersaing di pasaran.

Gross Profit Margin Ratio = (Penjualan - HPP / Penjualan)

c) Operating Margin Ratio; Rasio Margin Operasi
Operating Margi Ratio menunjukkan perhitungan laba bersih setelah dikurangi biaya operasional per satuan penjualan. Rasio ini mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan, sehingga rasio yang tinggi menunjukkan keadaan kurang baik karena berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi mungkin tidak hanya disebabkan oleh faktor intern yang dapat dikendalikan oleh manajemen tetapi juga faktor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen. (Semakin baik rasio ini berarti kinerja bagian penjualan optimal.)

Operating Margin Ratio = (Gross Profit Margin / Penjualan)

d) Net Profit Margin Ratio; Rasio Margin Bersih Usaha
Rasio ini menunjukkan perhitungan laba bersih sesudah pajak dibagi dengan penjualan sehingga menghasilkan laba untuk setiap rupiah (atau satuan moneter lain) penjualan. Semakin besar rasio ini menunjukkan kinerja terpadu dari seluruh elemen perusahaan berjalan dengan baik.

NPMR = (Laba Bersih / Penjualan)

e) Return On Network; Tingkat Pengembalian Modal Sendiri
Rasio laba bersih sesudah pajak terhadap modal untuk mengukur tingkat hasil pengembalian dari investasi para pemegang saham. Rasio ini menjamin kepastian para pemegang saham dalam mengharapkan pengembalian atas investasi yang ditanamkannya.

RONW = (Laba Bersih / Modal Sendiri)

f) Sales to Sales Administration dn Selling Expenses; Rasio Penjualan Bersih terhadap Biaya-biaya Penjualan
Rasio ini merupakan rasio perputaran seluruh biaya penjualan yang dihitung dengan membagi penjualan terhadap biaya-biaya penjualan semakin besar rasio ini menunjukkan kemampuan divisi penjualan yang berada diatas kemampuan optimalnya.

Sales to Sales Administration dan Selling Expenses = (Penjualan / Biaya-biaya Penjualan)

2) Rasio Produktivitas
Rasio produktivitas merupakan rasio spesifik analisis radar, mencakup lima yang mencerminkan indikator produktivitas faktor produktivitas faktor produksi manusiadi dalam perusahaan.
a) Sales per Employee; Penjualan Bersih per Karyawan
Rasio ini menunjukkan rata-rata pendapatan perusahaan yang dihasilkan oleh setiap karyawan, semakin besar rasio berarti semakin produktif. Karyawan disini mencakup pegawai administrasi maupun tenaga kerja (produksi).

Sales per Employee = (Penjualan / Jumlah Karyawan)

b) Net Added Value per Employee; Rasio Nilai Bersih per Karyawan
Rasio ini menunjukkan nilai yang diciptakan oleh setiap karyawan dari asupan yang ada yang kembali dinikmati oleh karyawan dan pemilik modal. Semakin besar rasio tersebut, semakin produktif pula perusahaan yang bersangkutan.

Net Added Value per Employee = {(Biaya Karyawan + Laba Operasi / Jumlah Jenjang Gaji) x (100 / IHKt)}

c) Equipment to Labor; Rasio peralatan per tenaga kerja.
Rasio ini merupakan indikator tingkat kecanggihan teknologi produksi yang dimiliki oleh perusahaan, karena semakin besar rasio semakin padat proses produksi yang dipilih. Dengan denikian diharapkan semakin produktif pula tenaga kerja perusahaan.

Equipment to Labor = (Nilai Bersih Peralatan / Jumlah Tenaga Kerja)

d) Wages Distribution Ratio; Distribusi Upah/Gaji
Rasio distribusi upah/gaji mencerminkan tingkat pemerataan_ atau sebaliknya ketimpangan_ upah/gaji dari berbagai tingkat dalam organisasi. Dalam suatu organisasi yang produktif, produktivitas tersebut akan merata pada seluruh tingkat organisasi relative kecil. Dengan demikian, semakin kecil rasio semakin baik perusahaan.

Wages Distribution Ratio = {(Gaji Tertinggi - Gaji Terendah) / Jumlah Jenjang Gaji)}

e) Wage Base Trend (Incentive base); Tingkat kenaikan gaji dasar atau intensif dasar
Pada pasar tenaga kerja yang kompetitif upah atau gaji mencerminkan produktivitas tenaga kerja yang kompetitif, dengan demikian peningkatan upah semestinya karena peningkatan produktivitas sejalan dengan itu, semakin besar rasio tingkat kenaikan gaji dasar menunjukkan meningkatnya produktivitas karyawan (tenaga kerja).

Wage Base Trend = (Gaji (Intensif) Dasar / Gaji (Intensif) Dasar t -1)


3) Rasio Utilisasi Usaha
Sebagaimana rasio profitabilitas, rasio ini diambil dari analisis rasio keuangan.
a) Total Assets Turnover; Perputaran Total Aktiva
Rasio ini mengukur perputaran dari seluruh aktivitas yang dihitung dari penjualan dibagi dengan jumlah aktiva. Rasio ini menunjukkan penggunaan investasi aktiva yang dimiliki secara optimal dalam mencapai volume bisnis yang cukup.

Total Assets Turnover = (Penjualan / Total Aktiva)

b) Working Capital Turnover; Perputaran Modal Kerja
Rasio ini menunjukkan hubungan antara modal kerja dan penjualan serta menunjukkan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan (jumlah rupiah atau satuan moneter lain) untuk setiap modal kerja. Perputaran modal kerja yang rendah mengindikasikan adanya kelebihan modal kerja yang mungkin disebabkan rendahnya perputaran persediaan, piutang atau adanya saldo kas yang terlalu besar.

Working Capital Turnover = (Penjualan / Aktiva Lancar)

c) Inventory Turn Over; Perputaran Persediaan
Semakin besar perputaran persediaan menunjukkan bahwa perusahaan tidak menyimpan persediaan secara berlebihan. Persediaan yang berlebihan merupakan harta yang tidak produktif dan merupakan investasi dengan hasil pengembalian yang rendah.

Inventory Turn Over = {(Penjualan (atau Harga Pokok Penjualan) / Persediaan}

d) Account Receivable Turnover; Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki suatu perusahaan mempunyai hubungan erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang yaitu dengan membagi total penjualan kredit (netto) dengan piutang rata-rata. Makin tinggi rasio menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah. Sebaliknya semakin rasio berarti ada kelebihan investasi dalam piutang.

Account Receivable Turnover = (Penjualan / Piutang Usaha)

e) Fixed assets Turn Over; Perputaran aktiva Tetap
Rasio ini digunakan untuk mengukur perputaran dari alat-alat dan mesin pabrik. Semakin besar rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mengguanakan aktiva tetap pada kapasitas setinggi kapasitas yang digunakan perusahaan lain di industri yang sama.

Fixed assets Turn Over = (Penjualan / Aktiva tetap Bersih)


4) Rasio Stabilitas
Rasio ini memang khas dengan rasio radar, namun sebagian besar isinya tidak lain merupakan gabungan dari rasio likuiditas dan rasio solvabilitas pada analisa rasio klasik, karena rasio tersebut pada hakekatnya adalah indicator stabilitas jangka pendek dan jangka panjang dari perusahaan. Hanya rasio pertama dari rasio stabilitas yang belum tercakup oleh rasio likuiditas dan rasio Solvabilitas.
a) Fixed Assets to Long-Term Debt and Net Worth yang juga disebut sebagai cushion Ratio. Rasio Aktiva Berwujud Bersih terhadap Sumber Dana Penyangga.Rasio ini menunjukkan tingkat keterjaminan pemilik modal tetap (pinjaman jangka panjang dan modal sendiri). Secara umum rasio ini harus lebih besar daripada satu, semakin besar rasio semakin terjamin pemilik modal sehingga semakin stabil perusahaan. Rasio ini melengkapi kekurangan rasio solvabilitas, Debt to Equity. Karena Debt to Equity yang relatif terlalu tinggi tidak selalu berarti perusahaan kurang solvable selalu diimbangi dengan rasio penyangga yang juga tinggi, jauh lebih besar daripada satu. Demikian pula jika ditinjau dari sudut kemampuan perusahaan untuk menarik dana jangka panjang yang baru jika rasio penyangganya juga relatif rendah.

Cushion Ratio = {(Aktiva Tetap Berwujud Bersih / Pinjaman Jangka Panjang (+ Modal Sendiri)}

b) Debt to equity; Rassio Pinjaman buat Modal Sendiri
Rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik.

Debt to equity = (Pinjaman Jangka panjang / Modal sendiri)

c) Quick Ratio; Rasio Cepat
Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini menunjukkan kinerja yang baik.

Quick Ratio = (Aktiva Lancar - Persediaan / Kewajiban Lancar)

d) Current Ratio; Rasio Lancar
Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan hutang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.

Current Ratio = (Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar)

e) Interest Charge Ratio; Rasio Beban Bunga (dan cicilan) terhadap Penjualan.
Rasio ini menggambarkan bagian dari penjualan bersih yang digunakan untuk menutupi biaya bunga dan cicilan.

Rasio Beban Pinjaman = {(Beban Bunga (+ Cicilan)) / Penjualan}


5) Rasio Potensi Pertumbuhan
Pada sebagian analisis rasio telah mencakup rasio pertumbuhan, hanya saja belum memasukkan nilai tambah dan kekuatan bersaing tenaga kerja. Sebaliknya rasio radar tidak memasukkan rasio pertumbuhan Earning dan harga saham perusahaan karena potensi pertumbuhan diisi dalam arti pertumbuhan sector atau usaha riilnya. Pertumbuhan Earning dan harga saham sebagai akibat dari pertumbuhan usaha riil tersebut. Rasio Potensi Pertumbuhan tersebut adalah:

a) Sales Growth; Pertumbuhan Penjualan Bersih
Rasio ini membandingkan penjualan bersih selama periode tertentu untuk mengukur kenaikan atau penurunan penjualan bersih. Semakin tinggi rasio ini semakin baik pertumbuhan potensi pertumbuhan.

Sales Growth = (Penjualan / Penjualan t -1)

b) Net Added Value to Sales Growth; 
Rasio Nilai Tambah Bersih terhadap Penjualan Bersih
Rasio ini mengukur tingkat Pertumbuhan Nilai Tambah Bersih yang dihasilkan oleh setiap pertumbuhan penjualan.

NTB terhadap Pertumbuhan Penjualan = {(TBt / NTBt -1) / Pertumbuhan Penjualan}

c) Labour Strenght Increase; Rasio Peningkatan kekuatan Tenaga kerja
Rasio ini merupakan indicator peningkatan kualitas tenaga kerja perusahaan sejalan dengan ketersediaan perusahaan membayar gaji/upah yang lebih tinggi untuk menarik tenaga kerja yang berkualitas tersebut. Pada gilirannya, tenaga kerja yang lebih baik adalah salah satu dasar utama untuk memenangkan persaingan dan mengembangkan perusahaan. Dengan demikian semakin besar rasio ini semakin besar pula peluang pertumbuhan perusahaan.

Peningkatan kekuatan Tenaga kerja = {(Biaya TKt /Biaya TKt -1) / (Jumlah TKt/Jumlah TKt -1)}

d) Net Worth Increase Tenaga kerja; Tingkat Kenaikan Modal Sendiri
Rasio ini mengukur tingkat kenaikan modal sendiri dengan membandingkan modal sendiri selama periode tertentu. Rasio yang semakin tinggi menunjukkan peningkatan hasil bagi perusahaan yang berarti bahwa perusahaan mempunyai kapasitas pertumbuhan pada modal bersih sendiri.

Tingkat Kenaikan Modal Sendiri = (Modal Sendiri / Modal Sendiri t -1)

e) Net Profit Increase Ratio; Tingkat Kenaikan Laba Bersih
Rasio ini mengukur pertumbuhan laba bersih perusahaan dengan membandingkan laba bersih selama periode tertentu. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin baik potensi perusahaan dalam meningkatkan laba bersihnya.

Tingkat Kenaikan Laba Bersih = (Laba Bersih / Laba Bersih t -1)

Related Posts

1 comment

  1. Assalamualaikum kak,
    Boleh cantumkan referensi nya kak?

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon