Pengaruh EPS, PER dam ROA Terhadap Harga Saham

March 30, 2020
Pengaruh Variabel Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dan Return On Assets (ROA) Terhadap Harga Saham
Pengaruh EPS, PER dam ROA Terhadap Harga Saham

Harga saham di bursa saham bersifat dinamis yang menyebabkan sulit ditentukan. Harga saham dapat bergerak naik atau turun karena faktor psikologis, akan tetapi dasar dan sekaligus titik awal penilai suatu saham tertentu tetap pada kinerja keuangan. Harga saham berhubungan dengan kondisi dan kinerja perusahaan. Semakin baik kinerja keuangan perusahaan maka akan semakin meningkat nilai perusahaan, sehingga harga saham akan meningkat. Peningkatan harga saham ini akan semakin meningkat kemakmuran bagi investor, karena dengan harga saham yang semakin meningkat maka keuntungan (return) akan diperoleh para pemegang saham.

Beberapa akan dijelaskan harga saham dan beberapa variabel yang di uji dalam penelitian ini:



1. Harga Saham

Saham berarti sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan terbuka (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:5). Saham dapat diperjualbelikan pada bursa efek, yaitu tempat yang dipergunakan untuk memperdagangkan efek sesudah pasar perdana. Penerbitan surat berharga saham akan memberikan berbagai keuntungan bagi perusahaan jasa Telekomunikasi.

Nilai pasar dari sekuritas merupakan harga pasar dari sekuritas itu sendiri. Untuk sekuritas yang diperdagangkan dengan aktif, nilai pasar merupakan terakhir yang dilaporkan pada saat sekuritas terjual. Harga pasar menunjukkan seberapa baik manajemen menjalankan tugasnya atas nama pemegang para pemegang saham. Pemegang saham yang tidak puas dengan kinerja perusahaan dapat menjual saham yang mereka miliki dan menginvestasikan uangnya di perusahaan lain. Tindakan-tindakan tersebut jika dilakukan oleh para pemegang saham akan mengakibatkan turunnya harga saham dipasar, karena pada dasarnya tinggi rendahnya harga saham lebih banyak dipengaruhi oleh pertimbangan pembeli dan penjual tentang kondisi internal dan eksternal perusahaan. Hal ini berkaitan dengan analisis sekuritas yang umumnya dilakukan investor sebelum membeli atau menjual saham.

Jadi harga saham adalah nilai suatu saham yang mencerminkan kekayaan perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut, dimana perubahan atau fluktuasinya sangat ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar bursa (pasar sekunder). Semakin banyak investor yang ingin membeli atau menyimpan saham, harganya semakin naik. Sebaliknya semakin banyak investor yang ingin menjual atau melepaskan suatu saham, maka harganya semakin bergerak turun.

Secara umum, semakin banyak kinerja suatu perusahaan, maka semakin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuangan yang dapat dinikmati oleh pemegang saham juga semakin besar kemungkinan harga saham akan naik Meskipun demikian, saham yang memiliki kinerja baik sekalipun harganya bisa saja turun karena keadaan pasar.

Saham yang memiliki kinerja baik meskipun harganya mengalami penurunan karena keadaan pasar yang jelek (bearish) yang menyebabkan kepercayaan terhadap pemodal terguncang. Saham ini tidak akan sampai hilang, jika kepercayaan pemodal pulih, siklus ekonomi membaik ataupun hal-hal lain membaik (bullish). Maka harga saham yang baik ini akan kembali naik, jadi risiko dari pemegang suatu saham adalah turunnya harga saham. Cara mengatasinya adalah menahan saham tersebut untuk waktu yang cukup lama sampai keadaan pasar membaik kembali.

2. Variabel Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share, yaitu menggambarkan jumlah laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku yang dihasilkan untuk setiap lembar saham (Rusdin,2006:145).

Menurut Tandelilin (2001:241) komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan adalah laba per saham (Earning Per share). Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. Meskipun tidak semua perusahaan mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam laporan keuangannya, besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan rugi laba perusahaan. Menurut Rusdin (2006:145) secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

EPS = (Laba Bersih / Jumlah Saham yang Beredar)
EPS merupakan salah satu rasio keuangan yang berpengaruh positif terhadap harga saham, hal ini sesuai dengan teori bahwa semakin besar EPS maka laba setelah pajak yang dihasilkan juga semakin baik, sehingga harga saham perusahaan tersebut semakin meningkat.

3. Variabel Price Earning Ratio (PER)

Di dalam bukunya Rusdin (2006:145) Price Earning Ratio, yaitu menunjukan operasional pasar terhadap kemampuan emiten, dalam menghasilkan laba, semakin kecil rasio, semakin bagus.

Price Earing Ratio (PER) dalam penentukan nilai suatu saham dilakukan dengan menghitung beberapa rupiah uang yang diinvestasikan ke dalam suatu saham untuk memperoleh satu rupiah pendapatan (earning) dari suatu saham (Tandelilin, 2001:184).

Dengan begitu PER mengindikasikan besarnya Rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu Rupiah earning perusahaan atau dengan kata lain, PER menunjukkan besarnya harga setiap satu Rupiah earning perusahaan. Dan juga bisa dikatakan bahwa PER merupakan ukuran harga relatif dari saham perusahaan. Menurut Rusdin (2006:146) Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

PER = (Harga Saham / Earning per Share)

Price Earning Ratio berpengaruh negatif terhadap harga saham dikarenakan secara teoritis semakin besar PER maka pendapatan persaham semakin kecil atau menurun, sehingga harga saham juga akan ikut menurun.



4. Variabel Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) merupakan rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atau laba (profitabilitas) pada tingkat pendapatan, aset dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003:27). sedangkan Rusdin (2006:144) mendefinisikan ROA, yaitu menunujukan tingkat pengembalian (return) yang dihasilkan manejemen atas modal yang ditanam oleh pemegang saham, sesudah dipotong kewajiban kepada kreditor.

Laba bersih (net income) merupakan ukuran pokok keseluruhan keberhasilan perusahaan. Laba atau kurangnya laba mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mendapat pinjaman dan pendanaan ekuitas, posisi likuiditas perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk berubah. Jumlah keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur serta kecenderungan atau trend keuntungan yang meningkat merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian penganalisa di dalam menilai profitabilitas suatu perusahaan. Profitabilitas atau rentabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan dengan membandingkan antara laba dengan modal yang digunakan dalam operasi, oleh karena itu keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan merupakan ukuran bahwa perusahaan itu rentable. (Munawir, 2001:57). Oleh karena itu bagi manajemen atau pihak-pihak yang lain, rentabilitas yang tinggi lebih penting daripada keuntungan yang besar. Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktiva secara produktif, dengan demikian rentabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dengan membandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah modal perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini, rasio rentabilitas yang digunakan adalah return on assets (ROA), ROA merupakan rasio rentabilitas yang menunjukkan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih atau laba selama periode tertentu. Menurut Rusdin (2006:146) secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

ROA = (Laba Bersih / Total Aktiva)

Pengaruh ROA terhadap harga saham, return on assets (ROA) merupakan rasio yang berhubungan aspek profitabilitas. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengukur efektivitas kinerja perusahaan dalam memperoleh laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki. Semakin besar ROA suatu perusahaan, maka semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan aset. Indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam perusahaan dapat dihitung dengan return on assets (ROA). Kaitannya dengan harga saham, ROA mempunyai hubungan yang positif karena sesuai teori dengan ROA yang tinggi berarti rasio profitabilitas juga tinggi. Dengan pencapaian laba yang tinggi, maka investor dapat mengharapkan keuntungan dari deviden karena pada hakikatnya dalam ekonomi konvensional, motif investasi adalah untuk memperoleh laba yang tinggi maka, apabila suatu saham menghasilkan deviden yang tinggi ketertarikan investor juga akan meningkat, sehingga kondisi tersebut akan berdampak pada peningkatan harga saham.

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon