Konsep Efisiensi Produsen Perkebunan

April 08, 2020
Seorang produsen diharuskan untuk bekerja secara efisien agar keuntungan yang diperoleh kian menjadi besar. Tuntutan bekerja secara efisien ini tidak dapat dihindari dalam bisnis modern, apabila sering dijumpai bahwa biaya produksi dirasakan terus meningkat sementara nilai produksi dirasakan relatif lambat meningkatnya. Lambatnya peningkatan nilai produksi sering disebabkan oleh karena nilai tambah komoditas barang-barang pertanian yang relatif lambat berkembangnya (dibanding dengan komoditas hasil industri) dan daya beli masyarakat yang juga relatif masih rendah. Sebaliknya di negara-negara maju, dimana dengan nilai tambah komoditas pertanian agak relatif baik dan daya beli masyarakat yang juga tinggi, maka kebutuhan tentang prinsip-prinsip "efisiensi" menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena persaingan antara produsen menjadi tinggi untuk memperoleh peluang pasar.

Seringkali perbedaan antara produsen komoditas pertanian dengan produsen komoditas industri yang berbahan baku komoditas pertanian begitu mencolok, yang semestinya hal seperti ini tidak perlu terjadi. Sebab produsen komoditas pertanian dan produsen industri yang berbahan baku komoditas pertanian perlu bekerja sama sedemikian rupa agar keduanya saling menguntungkan. Industri yang bahan bakunya dari bahan pertanian (agro industri) perlu kontinuitas supply bahan baku yang tepat waktu, baik dalam jumlah ataupun kualitas. Bila hal ini tidak dapat dipenuhi maka agak sulit agro industri tersebut dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itulah diperlukan kerjasama yang baik antara produsen barang-barang atau komoditas pertanian dan agro industri.
Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha akan selalu bekerja bagaimana ia mengalokasikan sarana produksi (input) yang ia miliki seefisien mungkin untuk dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Dalam ilmu ekonomi cara berfikir demikian sering disebut pendekatan dengan memaksimalkan keuntungan atau profit maximization. Di lain pihak manakala pengusaha diharapkan pada keterbatasan biaya dalam melaksanakan usaha taninya, maka mereka dengan kendala biaya usaha yang ia miliki yang jumlahnya terbatas suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi produksi sekecil-kecilnya, pendekatan seperti ini dikenal dengan istilah meminimumkan biaya atau cost minimization.

Prinsip kedua pendekatan tersebut adalah sama saja yaitu bagaimana memaksimalkan keuntungan yang diterima seorang produsen atau seorang pengusaha perkebunan dengan cara mengalokasikan penggunaan sumber daya yang seefisien mungkin untuk memahami kedua pendekatan di atas, kita diharapkan dapat memahami pula konsep hubungan antar input dan output. hubungan fisik antara input dan output ini disebut dengan fungsi produksi.

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon