Menginap di Hotel "Bangunan Bersejarah"

August 25, 2020
Dalam berwisata sejarah, pelancong tidak hanya bisa mengunjungi tempat atau bangunan yang mengandung nilai historis, tetapi kita bisa bermalam di bangunan tersebut, khususnya yang kini berfungsi sebagai hotel.

Bagi penggemar traveling, menginap di hotel bersejarah atau bekas bangunan bersejarah bisa menjadi nilai tambah dalam menapaki perjalanan di suatu kota. Cukup banyak bangunan bersejarah yang bisa kita inapi. Selain yang ada di tabel ilustrasi, masih ada sejumlah bangunan bersejarah yang kini berfungsi sebagai hotel.

Juga Hotel Savoy Homann yang berada di Bandung yang berdiri sejak 1871, dengan nama awal Hotel Homann sesuai nama pemiliknya, yang berkebangsaan Jerman. Saat itu, hotel ini terbuat dari bambu sebelum kemudian pada 1880 bangunan hotel ini dibangun kembali dengan tembok batu bata. Hotel juga pernah menjadi pilihan akomodasi tokoh-tokoh dunia seperti aktor Charlie Chaplin dan pemimpin-pemimpin negara pada saat Konferensi Asia-Afrika seperti Cho En Lai dan Jawaharlal Nehru.


Hotel Savoy Homann, Bandung
Hotel Savoy Homann, Bandung

Salah satunya adalah Hotel Sriwjaya Jakarta yang awalnya adalah restoran milik Conrad Alexander Willam Cavadino pada 1863, dan menjadi Hotel Cavadino pada 1898 hingga 1899 sebelum kemudian berubah nama menjadi du Lion d'Or. Pada 1941, hotel ini kembali berganti nama menjadi Park Hotel sebelum kemudian pada era 1950-an lebih dikenal dengan nama Hotel Sriwijaya.




Hotel Sriwjaya Jakarta, Jotel Tertua di Jakarta

Bila berkunjung ke Yogyakarta, bisa mencoba menginap di Hotel Royal Ambarrukmo, yang awalnya merupakan Pesanggarahan Ambarrukmo yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono V. Setelah direnovasi pada 1895-1897, bangunan ini digunakan Sultan Hamengku Buwono VII untuk menjamu tamu-tamu sebelum kemudian dijadikan kediaman Sultan ketika ia turun tahta.




Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta

Saat merancang pembangunan empat hotel berstandar internasional di Indonesia, Presiden Soekarno menggunakan banyak bangunan hasil rampasan perang Jepang. Alhasil, hotel Ambarrukmo menjadi salah satu lokasi yang digagas. Pada 1966, Hotel Ambarrukmo yang dibangun di area kebon raja hingga gandok kiwa.

Sebenarnya, masih banyak bangunan kuno dan bersejarah yang arsitektur bangunannya memiliki seni keindahan tinggi, dan bakal menarik wisatawan bila direnovasi atau dijadikan hotel. Namun, tidak mudah bagi pebisnis yang ingin mengalihfungsikan bangunan eksotis itu menjadi penginapan.

Kepala Dinas Pariwisata Pemprov DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia pemerintah DKI sudah memiliki Surat Keputusan Gubernur (SK Gubernur) terkait bangunan cagar budaya. SK Gubernur ini juga sudah menyesuaikan dengan arahan dalam Undang-Undang Cagar Budaya.

“Jadi setiap bangunan kami lihat dulu sejarahnya, dasar fungsinya apa, sebelum alih fungsi jadi hotel. Semua tergantung kebutuhan, makanya sekarang banyak hotel yang kepemilikannya swasta bukan punya Pemda DKI,” ungkapnya.

Hotel dengan nilai sejarah diakui oleh Cucu memiliki nilai tambah yang baik dalam pengelolaan sektor pariwisata daerah. Oleh sebab itu, mengacu pada aturan pengelolaan cagar budaya, maka bentuk asli dari bangunan hotel ini harus dijaga, dan tidak bisa asal dibongkar dan dibangun.

“Harus ada orisinalitasnya. Inilah yang dijaga dalam Dinas Kebudayaan, mereka yang menjaga keaslian cagar budaya dan kami dari Dinas Pariwisata lebih ke bagaimana bangunan ini bisa jadi obyek wisata yang bagus,” paparnya.

Harus Dilindungi

Sementara itu menurut Sejarawan dan Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nasional, Andi Achdian, setiap situs sejarah memang memiliki nilai ekonomi jika terkapitalisasi dengan tepat. Salah satunya dengan cara diolah sebagai tempat wisata. Meski begitu ada tiga hal yang harus diingat oleh para pengelola hotel.

Pertama, perlindungan atas bangunan. Menurut Andi, bangunan di atas 50 tahun punya nilai sejarah yang penting sehingga harus dilindungi dan dilestarikan, agar selanjutnya bisa dimanfaatkan. Tujuannya, adalah bahwa masyarakat juga bisa melihat tempat itu bukan hanya sebagai tempat wisata tetapi juga pemahaman dari sejarah bangsa.

“Dengan pemahaman sejarahnya, kita bisa memahami perkembangan kota, keberadaan bangunan lama, bangunan ciri Eropa, Jepang, China, atau model campuran Melayu, Arab dan Jawa. Semua itu warisan budaya yang bisa dikelola dengan baik dan menjadi rujukan pembelajaran di luar nilai ekonomis sebagai tempat wisata,” ungkapnya.

Berikutnya, adalah jaminan pengelolaan kelestarian tempat, dan ketiga adalah pentingnya pengelola hotel bersejarah dan tempat wisata sejarah lainnya untuk memanfaatkan bangunan sesuai dengan beleid UU Cagar Budaya.

Selain itu, upaya pemugaran atas bangunan juga harus sesuai ketentuan undang-undang seperti halnya Tim Sidang Pemugaran yang dimiliki Pemprov DKI dalam mengelola dan memutuskan bangunan bersejarah.

“Ada efek multiplier kalau itu bisa dijadikan hotel, selain ekonomi memberi pemasukan ke pemerintah, juga ada sisi edukasinya. Maka bisa kita mengangkat nilai kesejarahan di hotel dengan adanya program atau atraksi yang memikat disini. Jadi tidak hanya berpangku pada pendapatan dari sisi hospitality,” tutur Andi.



Sumber:
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Sabtu, 22/08/2020 02:00 WIB
https://koran.bisnis.com/

Related Posts

Comments


EmoticonEmoticon